OM SWASTYASTU

Penulis seidentik dengan pendapat atau anggapan sementara orang, khususnya Maha Gotra Tirta Harum, yang berorientasi pada Pura Tirta Harum sebagai Pura Kawitan Maha Gotra Tirta Harum, ini ada benarnya karena leluhur Maha Gotra Tirta Harum dilahirkan di Tirta Harum.

Tapi kini penulis akan mencoba mengutarakan bahwa disamping Pura Kawitan Tirta Harum, masih ada lagi Pura Kawitan yang lain yang belum dikenal oleh para pembaca dan khususnya oleh para kebanyakan Maha Gotra Tirta Harum.


Sebagai jawaban atas pertanyaan : Putra siapakah bayi yang dilahirkan di Tirta Harum, dan dimana stana beliau tempat melakukan Tapa Yoga Semadi.

Berdasarkan Lontar Pura Dalem Sila Adri, satu-satunya sumber yang penulis temukan, mengutarakan pada pokoknya sebagai berikut :

Disebutkan dalam Lontar bahwa, beliau yang bergelar Danghyang Subali berstana di Gunung Tohlangkir (Gunung Agung) membangun stana tempat beryoga di Pura Bukit Batur (150 m disebelah timur Pura Tirta Harum). Dan daerah di sekitar pesraman tersebut diberi nama Brasika yang berarti ikan Nyalian.

Disamping membangun stana tempat melakukan Tapa Yoga, beliau juga membangun dua buah permadian yaitu : Tirta Harum dan Taman Bali. Permandian taman ini diberi nama Taman Bali, karena dibangun oleh Danghyang Subali, sampai daerah sekitarnya disebut Desa Taman Bali. Ditilik dari kedua nama Brasika dan Taman Bali adalah dua nama satu sumber pencipta yaitu Danghyang Subali yang mengandung makna, ikan tanpa taman hidupnya susah, taman tanpa ikan airnya jadi kotor, dan akan jadi harmonis bila kedua unsur ini menyatu.

Ketika Danghyang Subali menciptakan permandian Tirta Harum, beliau bersemedi di tebing sungai Melangit : “Umijil Ertalia Merik” mengalirlah air pancuran yang baunya sangat harum, sehingga tempat mijilnya Tirta tersebut disebut Tirta Harum, dan daerah sekitarnya berbau wangi diberi nama Tegalwangi, dan bau harum ini menyusup ke Utara Timur sampai ke daerah Selat, daerah Masih Mabo, dan Daerah Empah, yang ceritanya telah berbataskan daerah Selat masih berbau harum “Masih Mabo”, dan bau ini baru berkurang di daerah Empah, yang sampai sekarang daerah-daerah ini dipakai nama subak yaitu Subak Selat, Subak Sibo, dan Subak Lempah. Semua subak-subak ini Tirta Harum yang terletak di Banjar Tegalwangi termasuk Wilayah Desa Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung.

Diceritakan lebih lanjut setelah beliau Danghyang Subali selesai melakukan Tapa Yoga di tempat ini, dan akan kembali ke Jawa yaitu Gunung Semeru, dan sebelum meninggalkan Pesraman tempat beryoga, beliau menyerahkan Pesraman dan kedua Permandian tersebut kepada adik beliau yang berstana di Kenteling Jagat (Kentel Gumi) di daerah Tusan yang bergelar, Danghyang Sri Aji Jaya Rembat, yang juga berstana di Guliang.

Atas perintah Danghyang Subali, Danghyang Jaya Rembat menggantikan Danghyang Subali berstana di Bukit Batur, dan sejak itu nama Bukit Batur dirubah menjadi Dalem Sila Adri. Sila berarti Batu dan Adri berarti Gunung/Bukit. Jadi Sila Adri berarti Gunung Batu.

Pada hari Tanggal Tahun Saka (ada dimuat dalam Lontar) Danghyang Jaya Rembat berangkat dari Dalem Sila Adri ke Tirta Harum. Sampai di Tirta Harum dikisahkan oleh penulis jaman dulu ditemukan bahwa air pancuran “aseret” yang berarti lobang itu tertutup oleh bayi dan bayi tersebut sulit untuk dilahirkan, tapi berkat keahlian Danghyang Sri Aji Jaya Rembat sebagai Dukun, Bayi tersebut bisa dilahirkan dengan selamat, terus dimandikan di air pancuran, sehabis dimandikan lalu ditaruh disuatu tempat “Loring Tukad Melangit” di sebelah utara Tukad Melangit (Jero Puri) diberi alas daun kayu jati dibawah kayu teges. “Anangis tang rare tan papegatan (menangis bayi itu tanpa henti-hentinya), menjadikan Danghyang Jaya Rembat kewalahan lalu memuja beliau Danghyang Subali, agar beliau berkenan hadir. Tidak berselang lama, kemudian Danghayang Subali tiba di tempat itu lalu bersabda : “Iki maka anakku panugrahan Danghyang Wisnu Bhuana patemone ring Diah Jung Asti, wenang ikang ari Angerembat”, (artinya : ini adalah putraku penugrahan Danghayang Wisnu Bhuana, dalam perkawinan dengan Diah Jung Asti, patut adikku memeliharanya).

Siapakah yang bergelar Diah Jung Asti ?. Penulis jaman dulu biasanya enggan menyebutkan nama sebenarnya karena tidak etik. Ditinjau dari arti nama Diah Jung Asti Diah berarti Putri Raja, Jung berarti Bukit, Asti berarti Dasar. Jadi Diah Jung Asti berarti Raja Putri yang berstana di kaki bukit. Dan kalau dihubungkan dengan Danghyang Wisnu Bhuana, Danghyang berarti Dewa, Wisnu berarti Air, Bhuana berarti Darat. Jadi Danghyang Wisnu Bhuana berarti Dewa penguasa air di darat. Jadi secara keseluruhan dapat diartikan dan dihubung-hubungkan : Raja Putri yang berstanana di dasar kaki bukit sebagai penguasa air di darat. Apakah tidak mungkin yang dimaksud Diah Jung Asti dalam kiasan tersebut adalah Raja Putri Dewi Ulun Danu, dan kalau pendapat ini bisa diterima, maka Kentel gumi, Dalem Sila Adri dan Ulun Danu keberadaannya hampir bersamaan. Hal ini dapat diperkuat dengan bukti bahwa : Untuk menghormati jasa beliau Dewi Ulun Danu, maka didekat pura Kentel Gumi dibangun pura Ulun Danu.

Disebutkan pula bahwa bayi tersebut oleh Danghyang Subali dianugrahi Gelar “I Dewa Gede Angga Tirta”, dan setelah dewasa diberi gelar : “I Dewa Gede Sang Anom Bagus”. Jadi jelaslah bahwa titel “I Dewa Gede” adalah penugrahan Danghyang Subali kepada putra yang lahir di Tirta Harum dan keturunannya…………………………………………..

Tidak diceritakan kisah perjalanan Danghyang Subali, diceritakan beliau Danghyang Sri Aji Jaya Rembat “Ngemong Tang Rare” memelihara putra tersebut di Dalem Sila Adri, dan kadang-kadang juga berada di Guliang, dan setelah beberapa tahun lamanya I Dewa Gede Angga Tirta menjadi dewasa dan telah bergelar I Dewa Gede Sang Anom Bagus.

Dihentikan cerita ini, diceritakan sekarang beliau Dalem Sekarangsana berstana di Gelgel. Dalem Sekarangsana dikaruniai seorang putri bergelar “I Dewa Ayu Mas Dalem”, konon beliau dalam keadaan sakit. Oleh Dalem Sekarangsana diminta agar Danghyang Sri Aji Jaya Rembat berkenan datang ke Gelgel untuk mengobati I Dewa Ayu Mas Dalem. Dan sekali saja diobati oleh Danghyang Jaya Rembat I Dewa Ayu Mas Dalem sembuh sepeti semula. Akan tetapi kemudian I Dewa Ayu Mas Dalem diindap penyakit lain yaitu sakit edan. Setelah beberapa kali diobati oleh Danghyang Jaya Rembat dengan japa mantra dan segala husada telah digunakan, tetapi I Dewa Ayu Mas Dalem tak kunjung sembuh. “Anangis ta sira Dalem Sekarangsana” (bersedihlah hati beliau Dalem Sekarangsana), dan menyerahkan I Dewa Ayu Mas Dalem untuk ikut Danghyang Jaya Rembat ke Pesraman. Sampai di Dalem Sila Adri sakitnya menjadi sembuh karena bertemu pandang dengan I Dewa Gede Sang Anom Bagus dan apabila pulang ke Gelgel sakitnya kambuh lagi. Oleh karena itu agak lama beliau tidak pulang ke Gelgel, senang tinggal di Dalem Sila Adri hatinya terpikat oleh seorang pemuda “Warnaning bagus apekik” yang sangat ganteng rupawan yaitu I Dewa Gede Sang Anom Bagus, maka terjalinlah cinta kasih kedua insan berlainan jenis ini. Ketika I Dewa Ayu Mas Dalem sedang mandi di pancuran Tirta Harum diketahui oleh Dayang dari tanda-tanda perubahan biologis, bahwa I Dewa Ayu Mas Dalem telah hamil. Dayang segera melaporkan hal itu kepada Dalem Sekarangsana, bahwa I Dewa Ayu Mas Dalem telah hamil, Dalem Sekarangsana menjadi marah, serta memerintahkan para sikep yudha/prajurit Gelgel untuk menangkap I Dewa Gede Sang Anom Bagus. Prajurit bersenjata Gelgel segera berangkat dari Gelgel menuju Guliang dan stana Guliang ditemukan dalam keadaan sepi, lalu berbelok ke timur turun ke Tukad Melangit naik keatas Bukit Sila Adri. Pada saat itu Danghyang Jaya Rembat sedang melakukan Puja Astawa, tahu akan tentang tujuan prajurit Gelgel tersebut, lalu menghilang di atas tilam tempat duduk. Setibanya prajurit Gelgel di Dalem Sila Adri, pesraman kelihatan sepi, namun usaha pencarian terus dilakukan, kemudian terdengar berita bahwa ada seorang pemuda rupawan sedang berburu/memikat burung perkutut di Hutan Jarak Bang. Prajurit Gelgel berangkat ke Jarak Bang dan menemukan I Dewa Gede Sang Anom Bagus sedang berburu, lalu ditangkap “tinalian”, diikat dibawa ke Gelgel bersama dengan Danghyang Jaya Rembat. Tidak diceritakan dalam perjalanan sampailah di Gelgel. I Dewa Gede Sang Anom Bagus dihaturkan kepada Dalem. Dalem menjadi marah dan memutuskan dalam sidang bahwa I Dewa Gede Sang Anom Bagus patut dijatuhi hukuman mati, karena berani dengan kedudukan Dalem. Bersedihlah beliau Danghyang Jaya Rembat, sebelum hukuman mati terhadap I Dewa Gede Sang Anom Bagus dilaksanakan, Danghyang Jaya Rembat sempat memuja Danghyang Subali agar beliau berkenan hadir ke Gelgel karena putra I Dewa Gede Sang Anom Bagus tertimpa bahaya. Tidak lama kemudian datang Danghyang Subali di Gelgel serta bersabda ; “Iki anakku panugrahan Danghyang Wisnu Bhuana, wenang ajatu karma kelawan I Dewa Ayu Mas Dalem apan amisan” (artinya ini adalah putraku panugrahan Danghyang Wisnu Bhuana, patut dijodohkan dengan I Dewa Ayu Mas Dalem karena besepupu). Mendengar sabda itu luluhlah hati beliau Dalem Sekarangsana, I Dewa Gede Sang Anom Bagus tidak jadi dibunuh, bahkan sebaliknya dibuatkan upacara perkawinan di Gelgel, setelah diupacara lalu dibuatkan Puri disebelah utara Bencingah Gelgel dan diberi Gelar “Cokorde Den Bencingah”. Jadi titel Cokorde pertama kali disandang oleh Putra Tirta Harum atas panugrahan Dalem Sekarangsana, adalah orang yang sehari-harinya dekat dengan Dalem baik ditinjau dari hubungan darah maupun kedudukan dalam struktur Istana Dalem. Karena I Dewa Sang Anom Bagus adalah Putra pertapa tidak lama tinggal di Gelgel kembali melakukan Tapa Yoga ke Kaki Gunung Agung, dengan meninggalkan istrinya I Dewa Ayu Mas Dalem dalam keadaan hamil, dengan pesan : bayi yang masih dalam kandungan bila lahir kemudian diberi nama I Dewa Gede Garba Jata “karena dikejar oleh prajurit bersenjata ketika hamilnya”.

Setelah cukup umur dalam kandungan lahirlah bayi tersebut dan oleh Sang Ibu diberi nama I Dewa Gede Garba Jata. Sangat disayang oleh Dalem karena Dalem belum berputra, saking sayangnya Dalem kepada putra ini sering tertidur dipangkuan Dalem. Ketika Dalem tidak ada pergi ke Uluwatu, Putra tersebut menunggu dan tertidur pada singasana Dalem, sekembali Dalem dari bepergian, pengiring Dalem yang bernama Ki Jambul Pule membawa tilam/tempat duduk Dalem, dengan tanpa memperhatikan lalu menaruh tilam tersebut di atas singasana Dalem, tahu-tahu putra tersebut ditindih tilam, Ki Jambul Pule jadi gemetar akan kesalahannya, tapi Dalem mengampuninya serta bersabda : Seketurunan Putra ini bila menjadi Raja patut diberi Gelar “I Dewa Gede Tangkeban”.

Beberapa tahun telah lampau dewasalah Putra I Dewa Gede Garba Jata, menanyakan kepada Sang Ibu siapa nama ayah dan dimana beliau berada. Dijawab oleh Sang ibu bahwa sang ayah bernama : I Dewa Gede Sang Anom Bagus sedang menjalani Tapa Yoga di Kaki Gunung Agung.

Berangkatlah I Dewa Gede Garba Jata dengan pengiring ke Kaki Gunung Agung, lama dicari akhirnya bertemu dengan seorang pertapa yang sedang “Amono Brata” sedang melakukan meditasi dan tubuhnya ditumbuhi lumut, I Dewa Gede Garba Jata lalu besimpuh dan memohon agar pertapa berkenan “Angelebaraken Mono Brata” melepaskan tapanya dan ketika ditanya Sang Putra mengaku bernama I Dewa Gede Garba Jata, teringatlah Sang Pertapa bahwa I Dewa Gede Garba Jata adalah Putranya, serta Sang Putra memohon agar Sang Ayah bekenan untuk pulang karena ditunggu Sang Ibu, tapi permohonan Sang Putra tidak terkabulkan, dengan pesan pewarah-warah sebagai berikut : Jangan berani kepada kedudukan Dalem Gelgel, dan akan menjadi Raja di Tamanbali. Setelah panugrahan selesai beliau Sang Pertapa (I Dewa Gede Sang Anom Bagus) lalu menghilang atau moksah setelah disembah oleh I Dewa Gede Garba Jata. sejak itu batu tempat moksahnya I Dewa Gede Sang Anom Bagus disebut Batu Madeg.

Dengan perasaan senang dan berbaur sedih pulanglah I Dewa Gede Garba Jata langsung ke Gelgel, tidak lama kemudian karena sangat disayang oleh Dalem I Dewa Gede Garba Jata dianugrahi Daerah lalu diangkat menjadi Raja Tamanbali dengan Gelar I Dewa Gede Tangkeban. Kemudian diceritakan Raja Tamanbali berputra tiga orang pertama I Dewa Gede Pering menjadi Raja di Brasika/Nyalian dengan pusat Penataran Sri Serengga, kedua Raja Bangli dengan pusat Penataran Bangli, dan ketiga Raja Tamanbali berpusat di Penataran Agung Tamanbali, (ketiga kerajaan ini memiliki Babad sendiri-sendiri) Babad Tamanbali, Babad Nyalian, Babad Bangli.

Kembali diceritakan beliau Danghyang Jaya Rembat berstana di Dalem Sila Adri. “Kunang ana ta muwah stria listuayu aminta lugraha ri sih ira Danghyang Jaya Rembat anguntap pengrupak ira, maharepa manebas daun pisang ………………………………………………”

Adalagi seorang wanita cantik memohon panugrahan cinta kasih beliau Danghyang Jaya Rembat agar berkenan memberikan meminjam pengerupak beliau, akan dipakai memetik daun pisang, permohonan tersebut dikabulkan dengan pesan jangan diselipkan pada pinggang, lupa wanita itu akan pesan tersebut, lalu setelah dipakai pengerupak tersebut dengan tidak disadari diselipkan dipinggangnya lalu hamillah wanita itu dan dari kehamilannya ini lahirlah seorang bayi yang diberi nama Ki Dukuh Suladri, diambil dari nama Dalem Sila Adri, yang kemudian membangun pedukuhan di tempat permandian Danghyang Jaya Rembat di bukit Empul Taman Sari, sampai sekarang tempat ini dinamakan Banjar Dukuh yang letaknya tidak jauh dari Dalem Sila Adri dan Tirta Harum di tepi Sungai Melangit termasuk Daerah Brasika/Desa Nyalian Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung.

Tidak diceritakan dimana beliau Danghyang Jaya Rembat Moksah, diceritakan Ki Dukuh Suladri tinggal di Pedukuhan di Taman Sari. Propesinya sama dengan Danghayang Jaya Rembat sebagai dukun dan pertapa yang juga ngemong Pura Dalem Sila Adri, datanglah ke pedukuhan dua orang Putri cantik “tosing Majapahit” keturunan majapahit (tidak disebutkan namanya) “melapu-lapu maserana kulit bawang tumiber ring Pasar Agung” pergi tanpa arah seperti kulit bawang di pasar dihembus angin sampailah kedua Putri tersebut di Padukuhan Ki Dukuh Suladri, hendak dijadikan anak angkat oleh Ki Dukuh Suladri, Ki Dukuh Istri tidak setuju, karena dalam perkawinannya telah dikaruniai keturunan. Tidak lama kemudian didengar oleh Dalem Gelgel bahwa Ki Dukuh Suladri ada memelihara dua orang Putri cantik, Dalem Gelgel datang ke Dalem Sila Adri “Masanekan” istirahat disana sambil menunggu kedatangan Ki Dukuh Suladri, tidak lama datang menghadap Ki Dukuh Suladri menghaturkan buah-buahan (pala gantung) kepada Dalem, pada kesempatan tersebut Dalem Gelgel menyampaikan kehendaknya akan mengawini Putri Keturunan Majapahit tersebut yang dipelihara oleh Ki Dukuh Suladri, Ki Dukuh Suladri tidak bisa berbuat banyak lalu menghaturkan putri Majapahit yang ke dua, dan yang pertama tinggal bersama dengan Ki Dukuh di Pedukuhan. Pendek ceritera Dalem mengawini putri nomor dua Tosing Majapahit “keturunan Majapahit” itu lalu berputra Pungakan Den Bencingah yang disebut juga Pungakan Den Kuta, yang berkuasa di Brasika sebelum Putra Tamanbali dengan membawa keris Ki Lobar. (tidak diceritakan hijrahnya Keris Ki Lobar dari tangan Pungakan Den Bencingah ke tangan Raja Tamanbali). Sejak perkawinan ini Ki Dukuh Suladri sangat disayang oleh Dalem Gelgel selaku besan dianugrahi rakyat sebanyak “Rong Atus” 200 orang dan dipindahkan kedudukannya memegang kekuasaan dari Banjar Padukuhan ke Daerah lain (tidak disebutkan nama Daerah, mungkin dimuat dalam Babad Ki Dukuh).

Setelah Dalem selesai memegang tapuk pemerintahan di Gelgel datang ke Desa Bakas akan mengadakan pertemuan dengan Putra beliau Pungakan Den Bencingah yang berkuasa di Brasika/Nyalian, setelah panugrahan atau pesan-pesan diterima oleh Putra Dalem Pungakan Den Bencingah beliau “ayat moksah” akan menghilang dan pada saat itu Pungakan Den Bencingah segera memeluk kaki Dalem Gelgel, tapi yang hanya dapat dipegang adalah kain yang dipakai oleh Dalem Gelgel (kancut) dan Kancut ini dipastu menjadi batu maka disebut Batu Kancut (sekarang disebut Batu Ngandang).

Ceritera moksahnya Dalem Gelgel di Desa Bakas, sekarang masih hidup dikalangan masyarakat secara turun temurun dan belum ditemukan sumbernya (mungkin dimuat dalam Babad Pungakan Den Bencingah/Pungakan Den Kuta) penulis menganggap perlu untuk diangkat sebagai bahan perbandingan dengan sumber-sumber lain yang masih ada di tangan Pembaca.

Dengan terbatasnya sumber lontar yang penulis pakai dasar, maka sangat terbatas pulalah sajian tulisan ini, dengan kerendahan hati penulis mohon kepada pembaca pada umumnya, khususnya para Sesepuh Maha Gotra Tirta Harum, dengan harapan dapat dikaji yang mengacu kepada kesempurnaan babad Maha Gotra Tirta harum.

Sebagai akhir kata cuma maaf yang penulis mohon, dan semoga kita bahagia lahir batin . (I Dewa Nyoman Gede Pinatih)

OM SANTI SANTI SANTI OM

Tags: , ,

54 Comments on Menelusuri Kawitan Maha Gotra Tirta Harum

  1. momochii says:

    Beneficial info and excellent design you got here! I want to thank you for sharing your ideas and putting the time into the stuff you publish! Great work!

  2. Do you people have a facebook fan page? I looked for one on twitter but could not discover one, I would really like to become a fan!

  3. Dewabagus says:

    Thanks for your comment

  4. Sak-Toe says:

    Wow… just found this article. This is what I’ve been looking for a long time. Thank you for sharing it. Honestly, at the first time, just feel confused about my original and ‘silsilah’. My parents kept saying that we belong to Satria Taman Bali without knowing what it is.

  5. kimjinsu says:

    i really surprised to looked into your article,for a long time ago,since i tried to find my original”josang”////,and now i found here…thank you…

  6. sang Nyoman Suyadnya says:

    Om swasti astu, mohn maaf ini bukan coment tpi pertanyaan, Kenapa di Maha Gotro Tirta Harum ada disebut bernama ” Sang ” kenapa sebnarnya kok ada disbut sang, trs sya ada memangil Dewa, (apa yg biasa masyrakat pngil Kadang Sang kadng DEWA, kenpa kami sang di bilang lbih rendah dri DEWA, Anak Agung, yg mna merka jga ketrunan Tirta Harum. Triama ksih , OM SntiX2 Om

    • dewa kt sukayasa says:

      perihal sebutan gelar dari mahagotra satria taman bali yg berbeda beda tak terlepas dari prilaku penglingsir/leluhur masing2.pada jaman kerajaan aturan adat susila amatlah ketat diberlakukan,cobalah baca babad satria taman bali,salah satu putra raja tamanbali yg bernama DEWA KALER,diturunkan derajatnya oleh raja menjadi DEWA PUNGKAN atau yg lasim disebut NGAKAN dikarenakan telah agamia gamana dg biang tiri beliu.perlu diketahui pada jaman kerajaan jika salah satu keturunan raja melanggar norma secara berat maka dia akan RERED KESATRIAN alias diturunkan derajatnya menjadi DEWE NGAKAN/NGAKAN DAN DEWE SANG/SANG sehingga di jaman sekarang akan ditemui gelar keturunan satria taman bali yg berbeda.namun demikian kita tetaplah satu ikatan darah yakni keturunan satria taman bali

  7. Dewa Dana says:

    Sang, Dewa, Anak Agung, tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah, bahkan leluhur Maha gotra Tirta harum pertama kali bergelar “SANG ANOM BAGUS”
    Suksema

  8. i dewa made oka suyana says:

    saya sangat tertarik denga apa yang penulis utarakan,,cuma kebanyakan meraba raba dan itu sama hal nya dengan saya dan yang lainnya yg tertarik dengan lelintihan leluhur, tapi yang terpenting sekarang menurut yang saya ketahui,,sebagai traah satyra taman bali dimana sekarang kita harus medek tangkil,selain di Pura tirta Harum,sesuai yg saya ketahui dari cerita anak lingsir dan Saduran Prasasti yang saya sungsung di Siladan,1 di pura Tohlangkir,di pura ulun danu batur,di pura kentel gumi,pura dasar ,di pura batumadeg yg bertempat di guliang kawan,pura lain yg dikesempatan lainya saya utarakan,,Suksma,,

  9. Dewa Merta says:

    Melihat dari gambar lontar yang termuat disini, saya kira penulis bersumber dari lontar tersebut, mungkinkah penulis lontar pada zamanya meraba-raba ?

    Suksesma

  10. i dewa made oka suyana says:

    saya minta maaf jikalau ada yg tidak berkenan dng coment sy yg lalu, simaklah dengan fositif, semua lontar yg di jadikan acuan adalah warisan leluhur yg sangat suci serta tidak ternilai harganya,justru sy sangat berterima kasih atas apa yg penulis utarakan di tengah ke engganan penglisir kita memberikan pitutur kepada sentananya ternyata masih mau menberikan pencerahan tentang lelintihan Satrya Tamanbali, sesuai apa yg penulis utaran sy hanya menyampaikan yg saya ketahui jikalau berguan simaklah dan jikalau tidak abaikanlah, suksma

  11. Admin says:

    Seksi sejarah MGTH pusat sudah berusaha keras menyusun silsilah/sejarah Maha Gotra Tirtha Harum, mari kita bersabar menunggu penerbitannya.

    Suksema

  12. DewaDana says:

    Puniki Link bahwa Sang, Dewa, dari golongan ksatria

    http://id.shvoong.com/writing-.....ng-dengan/

  13. agungbagus says:

    dilihat dari nama memang ada dewa, sang, cok, agung, tapi pada pokoknya dari gol kesatria, itu tak perlu jadi persoalan karena sudah itu kita terima, namun kita lihat babad dan lontar sebagai bukti bahwa trah nyalian memang kesatria itu sudah cukup,semua kita ini semeton ageng Mahagotra Tirta Arum, sukseme

  14. Sudi says:

    Tulisan yg amat jujur, disini sy melihat Hubungan yg sangat erat antara leluhur sang anom dan dukuh suladri. Kalau boleh di ambil kesimpulan mereka adalah ber sepupu.

  15. i dewa gede adnyana says:

    saya sangat senang bila ada yang menceritakan babad leluhur satria tamanbali, tetapi setelah saya baca agak bingung karena ceritanya sepotong sepotong, penulis yang saya hormati, bisakah diceritakan kenapa satria tamanbali ada di kecamatan rendang bagaimana sejarahny? trimakasih dan maaf bila sayalancang suksma

  16. adi putra says:

    sedikit informasi siapa tau berguna. memang benar pura panti(kawitan) 150 meter disebelah timur pura tirta harum. bersebelahan dengan balai banjar dusun tegalwangi, desa nyalian kec banjarangkan, klungkung…

    apakah pura ini yang dimaksud :”stana tempat beryoga Pura Bukit Batur (150 m disebelah timur Pura Tirta Harum).”??

  17. KakBagus says:

    Sila Adri, Bukit Batur mungkin artinya sama, di pura inilah stana beliau beryoga.

  18. ngurah says:

    Yang Jelas kami warih Tirta harum, sudah sangat menanti tentang sejarah Kawitan dari seksi sejarah, Kenapa sangat lama…..? napi ne takutin.

  19. Dewa Maya says:

    Menghormati leluhur dengan menunjukan rasa persaudaraan…. biarlah nama yang kita warisi tetap kita lestarikan, tetap meghormati yang kita tuakan gelarnya, namun siapapun kita janganlah pernah merendahkan semeton kita dengan gelar lainnya….. Karena itulah uniknya Mahagotra Tirtha Harum!

  20. IDK MUJIARTHANA says:

    Kamis tgl. 5 juli 2012. Sy 15 orang dari lombok tangkil ke pura tirta harum. Namun pemangku tidak ada disana. Pura digembok. Dan beberapa jam kemudian datang lagi rombongan pemedek dari singaraja lebih dari 10 org. Mereka kecewa sama spt saya. Suksme !

  21. IDNS WIRAMA says:

    Rahayu…..
    saya sangat berterimima kasih pada semeton yang telah berusaha dan mencari lelintihan dan melengkapi semuanya. masalah nama Sang,Dewa, Agung, cokorda, biarkan dan tetaplah dipergunakan pada anak seterusnya karena itu sudah keputusan orang tua yang telah membuat kita ada, yang jelas pada intinya kita semua adalah trah Ksatrya Tirta Harum, suksma rahayu rahayu rahayu

  22. anom says:

    Saya ingin tahu tentang babad Pungakan mungkin ada diantara semeton yang tahu? mohon diinformasikan suksma..

  23. dewa subamia says:

    matur suksma, nganinin indik tulisan punika yan piragin titiang antuk nambete kalkintang, gumanti mabobot pisan. Kemantenm yen wantah kangkat nunas mangda kapidartayang ngantos rerincikannyane, sumangdene sida kauningang oleh trah ida saking wiwit ngantois ka mangkin. suksma

  24. Purwita says:

    dumogi rahayu…. warih Bhetara Dalem… matur suksma, sampun ngelestariang indik lelintihan wit leluhur… santih OM

  25. Dewa Gde says:

    Spuniki masukan ring sameton sane arse tangkil ke pura tirta harum sadurunge tangkil kontak telp dumun ring nomor (0366) 30956

    Admin suksma………………..

  26. dewa gede agung darmayante says:

    Salam kenal, Tiang semeton taman bali saking lampung… rahayu

  27. gus astawa says:

    Rahayu….
    Tyang dari Pretisentana Ida bhujangga pernah tangkil ke pura tirta harum…di sana ada pelinggih Ida Bhujangga….dan di tunjukkan sendiri oleh mangku pura tersebut…apa ada kaitannya leluhur Satria Tirta Harum dan Ida Bhujabgga…?

  28. rai sita says:

    Atur suksme atas jerih payah anda, namun kami ingatkan jangan mengepose babad yang persinya banyak, hal ini akan membuat kegaduhan Trah Tirta Harum, jika anda sarat ingin beryadnya di bidang pengetahuan sejarah Bali umumnya dan Trah Tirta Harum, kami saran kan untuk melakukan studi yang ilmiah dengan mengedepankan Bukti-bukti artevax yang masih ada. Bejuanglah untuk mengunkap kebenaran Dharaning Tirta Harum, berkah Hyang Wisnu untuk anda disetai doa semoga Dhirga Yusa menyelasaiakan titah anak lingsih. Astungkara, Rahajeng Rahayu (kami keluarga dari Dewa Ngakan Purnajati, Dewa Wiryawan di Jaya Pura, Dewa Raka Tambahan – salah satu nara sumber babad Tirta Harum yang patut diperhitungkan, Sri Empu Waringin Tabanan dan Dewa Tegeh Tamanbali pemilik mrajan Tamanbali yang sekarang dikenal dengan Penataran Agung Tamanbali)

  29. Dewa Gede Bawa says:

    Tiyang Semeton taman Bali Dari Kendran tegalalang
    Tiyang bersyukur karna menemukan sedikit informasi tentang Sejarah Satria taman bali dimana juga mengaliir di darah saya Dan keluarga.sekarang setidaknya saya tau sedikit tentang keberadaan lelintih saya meskipun belum sepenuhnya kebenaran tapi saya yakin suatu saat kebenaran itu Akan muncul.

  30. Gede Riasa says:

    suksma usahanya untuk mengungkap lebih jauh ttg Ksatriya Taman Bali dan tolong ungkap juga keturunan Danghyang Jayarembat,(Dukuh Suladri) suksma

  31. dewa ngakan putu Rai Mayun says:

    saya dalam silsilah disebutkan adalah bagian dari Maha Gotra Taman Bali, tetapi masih belum mengerti kenapa kami mempergunakan nama Ngakan ?? atau dewa Ngakan ?? Ini juga menjadi ganjalan tersendiri dalam bathin saya.

  32. Dewa Gede Suparma says:

    Om Suastiastu, Yening pare semeton Mahagotra Tirta Harum jagi pacang ngruruh lelintihan (detail silsilah garis keturunan )silahkan tangkil ke puri Denpasar bangli (di utara pasar bangli)seantukan tityang ngamolihang lelintihan punika sane taler kewantu saking Dewa Aji Raka saking tambahan tangkil ke puri nunas ring Anank Agung aji Mangku penglingsir puri Denpasar Bangli, suksma, Dumogi semeton rahajeng lan rahayu ring sajeroning kahuripan sareng sami.

  33. Ngakan pt Bayu Warasmara says:

    Om Swastiastu!! titiang semeton saking Blahbatuh Gianyar, tiang sedikit bingung sebagai generasi muda, pelingsir tiange bilang bahwa semeton satria pungakan ring blahbatuh merupakan trah dari Dalem Segening, akan tetapi menurut prasasti di Merajan Candi (klungkung – Paksabali) yang di sungsung oleh semeton di blahbatuh mengatakan dari Tirta Harum Taman Bali, sane jagi takenang titiang, bagaimana hubungannya antara Dalem Segening dengan Tirta Harum Taman Bali? dan apa hubungannya antara I Dewa Tangkeban dengan Dewa pungakan Den Bencingah, Suksema!!!

  34. ganurey says:

    Siapa sebenarnya putri diah njung asti

  35. Wayan Hariana says:

    Om swatiastu,Majeng pengelingsir ring sane wikan antuk lelintihan semeton Dalem Tangkeban.titiang kenikaang antuk pengelingsir titiange
    kawitan titiange ring Pura Dalem Tangkeban genah Ipun ring Dawan Kelungkung,sakewanten akeh semetone nenten Dewe,titiang taler nenten Dewe sapunapi niki?? Nanging titiang ngewacen ring Babad Tirta Harum keturunan I Dewe Gede Tangkeban makesami Dewe,Napi wenten Keturunan nyane gelar ipun turun?? titiang Nunas pemargi mangde titiang wikan sukseme Om shanti Om

    • Wayan Hariana says:

      Mangde ledang pengelingsir Semeton Dalem Tangkeban ngicen jawaban pitaken titiange,,sue titiang nakena nenten pade uning.sukseme.

  36. Carina says:

    Om Swastiastu, tiang sebagai generasi penerus meminta dalam menelusuri babad ataupun pariagem di sampaikan tidak seperti dongeng penghatar tidur yang mesti bisa kita telaah lebih mendalam. karena kalau hanya di terjemahkan tanpa adanya analisa yang mendalam atas apa yang disampaikan akan menimbulkan banyak penafsiran. Selain itu sumber-sumber sejarahnya-nya juga mesti lebih diperbanyak. Kehidupan kita pada jaman babad itu di buat sangat berbeda dengan jaman sekarang. Kalo dapat kita bandingkan dengan buku sejarah lain saya ambil contoh buku berjudul “Arya Damar” disana disampaikan sangat jelas hub sejarah jawa dan sumatra tidak akan terlepas dengan hub sejarah yang ada di Bali. Karena Bali juga merupakan daerah jajahan kerajaan majapahit pada jaman itu.Karena jaman itu merupakan jaman kerajaan bukan seperti sekarang jaman demokrasi. Suksema

  37. ngakan md trisna dwi adnyana says:

    domogi buku sane memuat sejarah satria taman bali mangde k medalang
    mangde generasi sane lianan uning teken sejarah satria taman bali

    • Ann says:

      Mohon info dan rate utk reservasi tgl 14-17 Mei 2011, di Hotel Parai Beach Resort, bkngaa. Untuk Deluxe Beach Front, 1 Room (King bed size) for 2 adults.utk liburan 4D3N itu, bisakah kami dapat info tour seperti apa yang bisa kami lakukan?Terima kasih.

  38. Dewa ayu chrisma says:

    Saya dri madangan kelod satria taman bali dan saya sangat senang baca babad leluhur saya sendiri trimaksh

  39. Widya Kusuma says:

    Itu Dewa Gede Suparma, saya kenal sekali sama dia. Dia orang keluarganya Sang, tapi kok jadi Dewa.

    Dia ini keluarga/ponakan Sang Gede Ngurah bekas kepala desa Peninjoan, Tembuku. Ada juga pamannya bernama Sang Gede Buda.

    Yang saya tanyakan, kenapa dia atau orang tuanya bisa ganti nama begitu saja? Sepertinya nama itu bisa di buat oleh siapa saja. Biar kelihatan lebih tinggi,dia bikin nama baru, seperti Dewa Gede Suparma ini.

  40. dewa eka says:

    Kalau yg tiang baca dari babat ini. Cikal bakal pradewa itu taman bali.
    Semoga aja kasta dewa tidak ada di lain tempat. Cukup satu di “taman bali”

  41. Dewa Made S.P says:

    Sembahyang di Pura Tirta Harum Bangli, moment yang pas sekali bertemu dengan Pemangku. Terima kasih. Semoga semeton semua berbahagia selalu.

    • Angiolino says:

      It’s been a good start for writing this kind of rerpot. I’d like to comment a bit on taking care our planet will decrease our profit. Essentially, applying CSR tends to increase company’s expenditure. Some companies have no choice but to apply CSR for compiling with regulations or rules. Increasing in expenditure might lead to higher selling price burdened to customers. However, if companies apply CSR, in return they will have good image profile which indirectly lead to promotion or positioning (as written in this rerpot), hence could increase sales.Keep doing good work, so proud of you.

  42. Ngakan Ketut Kembar says:

    sOm Swastyastu, Tiang bahagia sekali baru sedikit mengetahui keterkaitan Taman bali dengan Tirta harum. Namun ada yang tiang bhelum tahu, benang merah pura Merajan Candi yang ada di Paksebali dengan Taman bali maupun Tirta Harum. siapa sebenarnya warih Titra Harum yang kesah ke Paksebali. Mohon bila berkenaan penulis lengkapi sumber tersebut. Karena ketika prasasti yang ada di merajan candi di tuur(dibaca) diawal memuat Tirta harum dan Taman bali. Suksma.

  43. Ngakan Ketut Kembar says:

    Om Swastyastu, Tiang bahagia sekali baru sedikit mengetahui keterkaitan Taman bali dengan Tirta harum. Namun ada yang tiang bhelum tahu, benang merah pura Merajan Candi yang ada di Paksebali dengan Taman bali maupun Tirta Harum. siapa sebenarnya warih Titra Harum yang kesah ke Paksebali. Mohon bila berkenaan penulis lengkapi sumber tersebut. Karena ketika prasasti yang ada di merajan candi di tuur(dibaca) diawal memuat Tirta harum dan Taman bali. Suksma.

  44. putu santika says:

    Tiyang semeton soroh dukuh, sebelumnya saya minta maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenen / menyinggu perasaan semeton yang lain. Saya mengucapkan terima kasi kepada penulis babad ksatria taman bali, di dalam cerita saya membaca tentang kelahiran DUKUH SULADRI, yang ingin saya tanyakan kepada penulis atau kepada pembaca yang mengetahui apakah tempat kelahiran DUKUH SULADRI MERUPAKAN KAWITAN DARI SANAK DUKUH? “mohon informasinya” dan sekali lagi saya mohon maaf apabila saya salah tempat untuk bertanya, karena saya soroh sanak dukuh. saya juga bingung tentang kawitan dukuh karena saya minim pengetahuan tentang kawitan, suksma.

    • Surya Putra says:

      Saya tidak begitu mendalami babad atau silsilah
      Tetapi sepanjang penglihatan saya banyak soroh Dukuh (Suladri)Sakti yang sembahyang atau tangkil ke Pura ini.
      Mungkin Pak Putu Santika untuk jelasnya bisa tanyakan ke Penglingsirnya atau ke MGTH

      Suksema

  45. putu santika says:

    ngih, suksma pak surya putra.

    • dewa kt sukayasa says:

      saya ingin menambah sedikit yg saya tau.soroh dukuh memang banyak yg tangkil ke tirta harum,yang tangkil adalah keturunan pasek padang subadra yg telah bergelar dukuh.pasek padang subadra ini merupakan murid dari ki dukuh suladri,jadi hubungan soroh dukuh ini menjadi erat kaitanya dgn pura tirta harum

  46. ketut budi ariana says:

    Tiang penyungsung pura tirta harum juga yang keberadaannya di desa pering blahbatuh gianyar,namun dari silsilah pura tirta harum ini blm banyak yang mengenal dan bahkan dari leluhur saya sendiri tidak ada yang menberikan jawaban pasti asal muasal pura tirta harum yang sampai sekarang tiang sungsung sebanyak 13 pengamong,,kepada yang tahu akan babad yang menceritakan keadaan pura tersebut saya mohon untuk bisa di beritahukan atau bisa diapload ke media agar saya sebagai penerus tahu keberdaan pura tersbut terima kasih atas informasinya
    kalau ada yang punya buku sejarah mengenai keberadaan pura tirta harum yang berlokasi di desa pering blahbatuh gianyar agar sudi kirannya meneritahukan saya melalui telp 081936377424 atau 03617841133 dan bisa juga via email karuniateknik551@yahoo.co.id
    suksma

  47. agung suamba says:

    om swastiastu….mohon maaf sebelumnya dan cerita diatas menarik untuk di ketahui…tp satu hal pertanyaan tyang…disana disebutkan lahir i dewa gede angga tirta dari perkawinan niskala seperti di tulis diatas kalau saya artikan sendiri…saya kebetulan juga satria tirta harum ..tp pertanyaan tyang…kisah ini terjadi setelah masuknya budaya majapahit ke bali..dan seperti kita ketahui kita dibali diluar bali mula atau orang2 bali asli jaman dulu…darah yg mengalir di tubuh kita sekarang umumnya darah majapahit dan budaya..dan seperti kita ketehui.. jaman masuknya majapahin ke bali merupakan jaman manusia ( bukan jaman dewa),jadi kalau dr cerita diatas berarti satria tirta harum merupakan darah bali asli…dan jaman itu jaman manusia bukan jaman gaib…karena sudah masuknya kebudayaan majapahit kebali ( baca sejarah dalem gelgel)…. yang saya tidak mengerti dan belum masuk di akal lahirnya i dewa gede angga tirta sangat mistirius…mohon penjelasan dari penulis…..dan banya lg pertanyaan yg perlu saya tanyakan tentang keberadaan satria tirta harum dan dalem gegel…..kalo bisa tolong penulis hubungi tyang…di nomor 081246498200 agung suamba,abuan,sust bangli

  48. agung suamba says:

    swastiastu semeton sami dan penulis..tityang sebagai semeton mahagotra tirta harum..sangat berharap penulis berkenan menunjukan sejarah…krn menurut tityang sejarah ada pembuktiang dan bisa di buktikan..seperti yg tityang sampaikan diatas..tityang sebagai semeton mahagotra titra harun..sangat berharap sekali tau dgn sejarah..dan bukan dongeng peng hibur….suksema…

    sukseme

    agung suamba

Leave a Reply

*